01 March 2010

Hobi

Ngomongin soal hobi, maka setiap orang pasti punya hobi. Melakukan kegiatan yang sudah jadi hobi bisa memberikan kenikmatan tersendiri. Hobi juga dapat menjadi hiburan yang bisa mengurangi stres. Kalau sudah bisa menyalurkan hobi, hati akan terasa senang dan puas. Orang yang memiliki suatu hobi akan senang bila bertemu dengan orang yang punya hobi yang sama. Lalu biasanya membentuk club hobi tertentu.

Saya punya beberapa hobi, salah satunya di bidang seni, khususnya seni grafis. Kegiatan gambar-menggambar inilah yang paling saya sukai. Bikin gambar kartun atau komik adalah kegemaran saya. Yang paling saya senangi adalah menggambar sketsa dengan pensil 2B atau 3B. Sebenarnya melukis dengan cat air atau cat minyak saya juga suka, tapi karena tidak terlalu menguasai tehniknya maka saya jarang memakainya.

Alhamdulillah, Allah memberikan saya kemampuan menggambar sejak kecil, yang katanya sih itu bakat. Tapi kayaknya bakatnya masih terpendam agak dalam. Seingat saya, sejak usia pra sekolah, saya sudah senang corat-coret. Waktu belum sekolah dulu, bahkan hampir setiap hari bisa menghabiskan satu buku gambar untuk melukis. Saya ingat ketika itu satu buku gambar ukuran kecil harganya Rp 75,- itu sekitar tahun ’89-an. Waktu kecil saya pernah bercita-cita jadi seorang seniman atau pelukis. Bapak pernah punya rencana mau menyekolahkan saya di ISI, dekat kampung halaman di Jogja sana. Tapi itu dulu....

Kalo sudah melihat hasil gambar saya, beberapa teman ada yang menyarankan untuk mengkomersilkannya. Tapi saya masih belum berfikir untuk itu. Menggambar untuk kesenangan sendiri aja sebenarnya udah cukup bagi saya. Alhamdulillah kalau ada teman yang juga bisa menikmati karya saya.

Kalau ada teman yang tanya, gimana sih biar bisa mengambar? Apakah harus punya bakat ? Sebenarnya peran bakat hanya sebagian kecil saja. Kunci yg paling utama untuk bisa menggambar adalah banyak latihan dan terus berlatih biar bisa menghasilkan gambar yang bagus. Untuk pemula, menggambar dengan mencontoh gambar lain adalah cara yang paling disarankan. Nanti kalau sudah terbiasa, bisa menciptakan karakter sendiri yang khas. Hasil gambar saya sebenarnya juga belum bisa dibilang bagus dan rapi. Sampai saat ini pun saya masih belajar dan terus belajar mengasah kemampuan menggambar. Makanya kalau pas ketemu teman yang sama-sama hobi menggambar, saya senang sekali, bisa berbagi ilmu.

Di era digital sekarang ini, perangkat-perangkat menggambar semakin canggih dan menakjubkan. Saat ini saya lagi ‘tergila-gila’ dengan namanya Photoshop. Udah sekitar dua tahun terakhir saya berkenalan dengannya. Dan hasilnya, sungguh sangat ekspresif sekali. Bisa dipakai untuk lucu-lucuan. Dulu waktu masih punya akun di Facebook (sekarang nggak ada lagi), saya sering meng-usil-i teman-teman. Caranya dengan mengedit foto-fotonya, ditambahi atau dikurangi sehingga jadi tampak lucu, kemudian di upload lagi ke dinding Fb-nya. Photoshop juga bisa bikin foto wajah kita yang ganteng berubah jadi lucu, atau wajah yang kurang ganteng jadi tambah jelek.

Kalau sudah keasyikan mengotak-atik foto, saya sering lupa waktu. Mata melek di depan komputer mulai dari ba’da isya sampai jam 3 pagi sudah biasa. Padahal cuma bermodal Photoshop Portable versi 7 atau 8 di flashdis dan komputer pinjaman. Maklumlah, belum punya komputer sendiri. Pengennya sih nanti bisa punya Laptop dan kamera sendiri.

Hobi menggambar ternyata sangat pas jika dipadukan dengan teknologi. Sebenarnya banyak software canggih yang bisa dipakai untuk mengolah gambar, tapi baru Photoshop yang saya bisa. Suatu saat ingin juga bisa pakai perangkat-perangkat canggih lainnya. Kalau ada teman-teman yang bisa CorelDraw, Adobe Ilustrator ataupun program yang lainnya, mohon untuk membagi ilmunya, saya akan sangat senang sekali.


Kamus:

ho·bi n kegemaran; kesenangan istimewa pd waktu senggang, bukan pekerjaan utama

(Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI/ http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php)

01 February 2010



Dari Abu Sa'id Al-Khudri Rodhiallohu 'anhu, bahwa Rasululloh Sholallohu 'alaihi wasallam bersabda:

إذا وضعت الجنازة واحتملها الناس أوالرجال على أعناقهم , فان كانت صالحة قالت : قدمونى ، وان كانت غيرصالحة ، قالت : ياويلها أين تذهبون بها ؟ يسمع صوتها كل شىءإلا الانسان ولوسمعه صعق

"Apabila jenazah telah diletakkan (di dalam keranda) dan dipikul oleh manusia atau orang-orang di atas pundak mereka, maka jika jenazah itu orang shaleh, ia akan berkata: 'Segera, segeralah antarkan aku!' Namun apabila jenazah itu bukan orang shaleh maka ia akan berkata: 'Aduh celaka! kalian akan membawanya kemana?!' Segala sesuatu mendengar suara (rintihan)nya kecuali manusia. Seandainya manusia mendengarnya pasti ia terkapar(pingsan)."
[HR. Bukhari]

Hadits diatas oleh Imam An-Nawawi Rahimahulloh, dimasukkan ke dalam Bab. Memadukan Antara Khouf (rasa takut) dan Roja' (berharap) kepada Allah, dalam kitabnya yang terkenal, Riyadhush-Shalihin. Di dalam hadits Rasululloh yang mulia ini tekandung banyak pelajaran yang sangat berharga.

Faedah yang dapat diambil dari hadits tersebut antara lain:

1. Terdapat perintah untuk senantiasa takut kepada Allah dan berharap kecintaan dari Allah., karena tidak ada seorangpun yang bisa memastikan takdirnya dimasa yang akan datang. Takut apabila amalan-amalan yg kita lakukan tidak diterima oleh Allah dan berharap bahwa Allah akan memberikan balasan yang terbaik.

2.Terdapat gambaran tentang dahsyatnya kehidupan setelah kematian.

3. Disyariatkan untuk menyegerakan penyelenggaraan jenazah.

3. Termasuk bagian dari Sunnah yaitu memikul jenazah di atas bahu menuju kuburan. Adapun mengangkut jenazah dengan mobil tanpa ada uzur, misalnya karena jaraknya yang jauh, adalah menyelisihi sunnah.

4. Yang disyariatkan untuk menggotong jenazah adalah laki-laki.

5. Termasuk nikmat yang diberikan Allah kepada manusia adalah tidak dapat mendengar suara rintihan jenazah ketika diusung.

Dikutip dari penjelasan Al-Ustadz Abu Salma Al-Rifaindry dalam kajian Kitab Syarah Riyadhush-Shalihin karya Syaikh Salim Al-Hilali di Masjid Nurul Islam Universitas Jambi.

27 January 2010

Dua Satu Dua


Apa kabar para sahabat di seluruh penjuru jagad maya? Semoga kita semua senantiasa berada dalam kebaikan. Di zama kita sekarang ini, yang namanya nasehat sangatlah kita butuhkan sebagai bekal kita dalam menapaki kehidupan yang memerlukan perjuangan keras ini. Sebenarnya banyak sekali nasehat, hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari berbagai tempat dan peristiwa yg terjadi di sekitar kita, tergantung pada kemauan dan pandai-pandainya kita mengambilnya.

Pada kesempatan ini saya mengajak para sahabat untuk mengambil sedikit nasehat dari seorang tokoh yang cukup terkenal di kalangan Dunia Persilatan. Sekaligus kita refreshing sejenak sambil menikmati penggalan kisah dari Pendekar kita yang saat itu masih sebagai pemuda yang lugu yang hendak turun gunung.

BAB DELAPAN

.......
Sinto Gendeng tertawa melengking-lengking. Dan sehabis tertawa tadi maka diulanginya nyanyian tadi. Nyanyian yang membuat hati Wiro Saksana menjadi tergetar.

Pitulas taun wus katilar,
Pucuking Gunung Gede isih panggah kaya biyen mulo,
Langit isih tetep biru,
Wulan lan suryo isih tetep mandeng lan kangen,
Pitulas taun agawe kang tua tambah tua.
Pitulas taun ndadekake bayi abang dadi pemuda kang gagah,
Pitulas taun wektu perjanjian,
Pitulas taun wiwitane perpisahan,
Pitulas taun wekdaling pamales.


Wiro duduk menghamparkan diri di bawah sebatang pohon di seberang pohon jambu klutuk. Dilihatnya gurunya menghela nafas dalam beberapa kali.
”Dadamu sesak Eyang? Aku bisa tolong urut....”
”Diam!” bentak Sinto Gendeng. Wiro menggaruk kepalanya dan diam.
”Aku mau bicara sama kau!” kata Sinto Gendeng pula.
”Bicara apa Eyang....?” Pemuda ini mulai bicara sungguh-sungguh karena dilihatnya gurunya juga bicara sungguh-sungguh.
”Berapa lama kau tinggal di sini bersamaku, Wiro?!”
”Murid tidak ingat....”
”Gelo betul! Buat apa aku ajar tulis baca dan berhitung sama kau?!”
”Mungkin sepuluh tahun, Eyang....”
”Goblok! Tujuh belas tahun, tahu?!”
Wiro tertawa, ”Iyyaa.... tujuh belas tahun Eyang,” katanya pula.
”Kuharap hari ini kau jangan bicara sinting sama aku, Wiro!” bentak Sinto Gendeng dan matanya masih terus menatap ke timur.
”Kau lihat matahari itu?”
”Lihat Eyang....” jawab Wiro seraya memandang ke timur.
”Matahari itu masih tetap matahari yang dulu juga, masih sama dengan matahari tujuh belas tahun yang silam. Puncak Gunung Gede ini juga masih seperti dulu juga. Cuma yang tua tambah tua, yang orok jadi pemuda! Cuma dunia luar yang banyak berobahnya!”
Wiro Saksana mendengarkan dengan sungguh-sungguh karena tak pernah dilihatnya gurunya bicara seperti itu sebelumnya. Kemudian terdengar kembali suara sang nenek.
”Tujuhbelas tahun. Sekian lama kau tinggal bersamaku. Belajar tulis baca, belajar ilmu silat, belajar segala kesaktian. Tapi kau jangan lupa! Kudu inget! Ilmu dan segala kesaktian apa yang telah aku berikan sama kau semuanya adalah masih sangat terlalu kecil, terlalu sedikit, sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ilmu kekuasaan Gusti Allah. Kau mengerti, Wiro?”
”Ya, Eyang....”
”Karena itu kau musti sadar, kudu ingat. Kalau ini hari kau sudah menjadi sakti mandraguna yang tak sembarang orang bisa menandingi kau, tapi hal utama yang musti kau lakukan ialah menjauhkan diri dari segala sifat yang tidak baik! Kau jangan sekali-kali bersifat sombong, congkak dan takabur! Pakai semua ilmu yang kuberikan untuk menolong sesama manusia, untuk kebaikan. Kalau kau nyeleweng, kau akan dapat balasan sendiri di kemudian hari! Kau musti ingat bahwa bukan kau saja yang sakti di dunia ini. Kau musti sadar bahwa diluar langit ada langit lagi. Kau sadar, Wiro?”
”Sadar, Eyang....”
”Ingat?”
”Ingat,Eyang....”
”Ingat.... ya ingat! Manusia ingat dengan pikirannya, sama otaknya! Tapi aku tak mau kalau kau cuma sekedar mengingat saja karena setiap ada ingat musti ada lupa. Dan manusia manapun selagi bernama manusia, suatu ketika tetap akan membawa sifat lupa itu. Lupa dan kelupaan. Yang penting ialah kau musti menanamkan sedalam-dalamnya ke dalam hatimu, ke dalam sanubarimu, ke dalam aliran kau punya darah, ke dalam detakan jantung, ke dalam hembusan nafas! Sesuatu itu, jika ditanamkan dalam-dalam laksana sebatang pohon, jadinya tak satu tanganpun yang sanggup mencabutnya dari bumi karena dari hari ke hari akar yang membuat pohon itu tegak semakin kokoh dan jauh masuk ke dalam tanah!” Kesunyian menyeling beberapa lamanya. Kesunyian ini dipecahkan oleh suara Eyang Sinto Gendeng kembali.
”Hari ini adalah hari yang penghabisan kau berada di sini, Wiro!”
”Eyang....,” terkejut Wiro Saksana mendengar kata-kata gurunya yang tiada
disangkanya itu.
”Kau terkejut....? Tak perlu terkejut. Di dunia ini selalu ada waktu bertemu selalu ada waktu perpisahan. Waktu datang dan waktu pergi! Aku telah selesai dengan kewajibanku memberikan segala macam ilmu kepada kau dan kau sudah selesai dengan kewajiban kau yaitu menuntut dan mempelajari ilmu itu dari-ku....”
Dalam duduknya itu Wiro Saksana jadi tertegun. Jadi rupa-rupanya apa yang dinyanyikan oleh Eyang Sinto Gendeng tadi ada hubungannya dengan peri kehidupannya. Cuma yang belum dimengerti Wiro ialah barisan kalimat, Tujuh belas tahun masa perjanjian.... tujuh belas tahun saat pembalasan....
Eyang Sinto Gendeng tiba-tiba melayang turun ke tanah kembali. Dia berdiri di hadapan muridnya. Dan mulai lagi bicara.
”Segala apa yang ada di dunia ini selalu terdiri atas dua bagian, Wiro! Dua bagian yang berlainan satu sama lain tapi yang menjadi pasangan-pasangannya....”
Wiro Saksana kerenyitkan kening tak mengerti.
”Misalnya Eyang?” tanyanya.
”Misalnya...., ada laki-laki ada perempuan. Bukankah itu dua bagian yang berlainan? Tapi merupakan pasangan?!”
”Betul Eyang....”
”Misal lain.... ada langit.... ada bumi. Ada lautan ada daratan. Ada api ada air.... ada panas ada dingin. Ada hidup ada mati, ada miskin ada kaya. Ada buta ada melek. Ada lurus ada bengkok, ada panjang ada pendek, ada tinggi ada rendah, ada dalam ada cetek! Semuanya selalu begitu Wiro. Kemudian.... ada susah ada senang, ada tertawa ada menangis. Di atas semua itu ada satu yang tertinggi. Yang satu ini ialah penciptanya. Siapa yang ciptakan kau, Wiro....?”
”Tidak tahu Eyang....”
”Bogrol!”
”Aku tahu Eyang....”
”Siapa?”
”Ibu sama bapakku.”
”Siapa yang mencipatakan ibu sama bapak kau?”
”Nenek sama kakek....”
”Yang menciptakan nenek sama kakek....?”
”Nenek dari nenek dan kakek dari kakek....”
”Dan yang menciptakan nenek dari nenek serta kakek dari kakek....?”
”Ya nenek dari nenek dari nenek dan kakek....”
”Geblek!” bentak Sinto Gendeng.
”Manusia tidak pernah bisa menciptakan manusia! Bapak kau kawin sama ibu kau dan ibu kau cuma melahirkan kau, lain tidak!! Ibu kau dilahirkan sama nenek, kau begitu seterusnya goblok! Semua manusia ini, semua apa saja di dunia ini diciptakan oleh Yang Satu. Oleh Gusti Allah! Hal-hal yang dua itupun juga diciptakan dengan kodrat iradatnya Gusti Allah. Gusti Allah ciptakan laki-laki juga Dia ciptakan perempuan. Gusti Allah bikin langit, juga bikin bumi. Bikin orang-orang susah juga bikin orang-orang senang. Bikin manusia-manusia kaya juga bikin manusia-manusia miskin. Sekarang aku mau tanya sama kau. Berapa kau punya mata?”
”Dua, Eyang.”
”Hidung?”
”Satu Eyang.”
”Lobang hidung?”
”Dua Eyang....”
”Mulut?”
”Satu....”
”Bibir?”
”Dua Eyang.”
”Kepala?”
”Satu....”
”Tangan?”
”Dua....”
”Kaki....?”
”Juga dua Eyang....”
”Kau punya biji kemaluan....?”
”Dua Eyang,” dan dalam hatinya Wiro memaki tapi geli.
”Kau punya batang kemaluan?”
”Satu Eyang....” Wiro geli lagi dan memaki lagi.
”Nah.... itu semua membuktikan di dunia ini kehidupan manusia adalah tak ubahnya seperti bilangan dua dan satu, satu dan dua, dua satu dua dan seterusnya. Angka dua dan satu itu selalu ada melekat dalam diri manusia. Dan semuanya itu hanya diciptakan oleh Yang Maha Kuasa yakni Gusti Allah! Kehidupan dua dan satu ini, kehidupan dua satu dua ini, dan adanya dua satu dua ini tak bisa diingkari dan harus melekat dalam diri manusia! Manusia pasti akan merasakan senang susah, gembira sedih, kaya miskin, lapar kenyang, hidup mati, dan manusia juga musti percaya pada Yang Satu yakni Gusti Allah....”
”Tapi manusia yang picak, Eyang, matanya cuma satu, manusia yang buntung kakinya sebelah, berarti cuma punya satu kaki. Jadi dia tidak memiliki angka dua yang sempurna dalam dirinya....”
”Betul, meski begitu berarti dia cuma punya satu mata, punya satu kaki! Nah, bukankah ada juga melekat angka satu pada dirinya?! Aku sudah bilang sama kau bahwa dalam diri manusia musti ada angka dua dan satu itu! Apa kau masih kurang ngerti, goblok?!” Wiro diam, kata-kata gurunya itu memang betul.
”Sekarang berdirilah kau!,” perintah Eyang Sinto Gendeng. Wiro Saksana berdiri. Eyang Sinto Gendeng menyeringai dan tertawa cekikikan. Tiba-tiba dari balik pakaian hitamnya dikeluarkannya kembali kapak saktinya. Terkejut Wiro Saksana dan pemuda ini mundur beberapa langkah ke belakang. Sinto Gendeng menyeringai lagi, tertawa lagi hingga
kedua matanya berair.
“Kenapa kau terkejut....?” tanya Eyang Sinto Gendeng. “Kau takut?!”
“Eyang mau bikin cilaka murid lagi?!” tanya Wiro Saksana bersiap-siap. Dan nenek itu tertawa lagi melengking-lengking. Dia mundur sampai tujuh tombak ke belakang.
”Pejamkan matamu, Wiro!” perintah Eyang Sinto Gendeng pula.
”Tapi.... Eyang mau bikin apa?!”
”Eeee.... kunyuk betul kau! Aku suruh pejamkan mata malah banyak tanya!! Pejamkan matamu!” Wiro memejamkan matanya dengan ragu-ragu. Karena itu kedua mata itu dipejamkannya tidak rapat betul.
”Biar rapat!” hardik Sinto Gendeng. Dan Wiro terpaksa menutup matanya rapat-rapat.
“Buka bajumu!” Wiro membuka bajunya dan meletakkannya di tanah. Kedua matanya tetap memejam.
“Buka tangan kananmu, naikkan ke atas dan hadapkan telapaknya kepadaku!”, perintah Sinto Gendeng lagi. Wiro mengikuti perintah itu. Eyang Sinto Gendeng memegang mata kapak dengan tangan kanannya erat-erat. Salah satu jarinya kemudian menempelkan disatu bagian rahasia pada gading dekat kepala kapak yang terbuat dari besi putih itu.
”Apapun yang terjadi sekali-kali jangan buka kedua matamu dan sekali-kali jangan bergeser. Kecuali kalau kau mau mampus!”
”Eyang....”
”Diam! Gila betul!,” bentak Sinto Gendeng. Wiro terpaksa membungkam. Perempuan tua itu menekan alat rahasia dekat kepala kapak. Maka dari mulut naga-nagaan di hulu kapak melesat dengan suara menderu tigapuluh enam batang jarum putih. Ketiga puluh enam jarum itu mendarat dan menancap di dada kanan Wiro Saksana. Jarum-jarum ini menancap dengan teratur membentuk susunan angka 212. Pemuda itu menjerit keras. Tubuhnya rebah ke tanah! Sekali lagi Sinto Gendeng menekan alat rahasia dekat kepala kapak. Kini dua puluh empat batang jarum hitam meluncur dan menancap di telapak tangan sebelah kanan Wiro Saksana! Pemuda ini menjerit lagi karena tancapan jarum yang tigapuluh enam tadi telah membuat dia tak sadarkan diri!
Sebelum Wiro Saksana siuman, Eyang Sinto Gendeng sudah mencabuti jarum-jarum putih di dada pemuda itu, juga jarum-jarum hitam di telapak tangan kanan Wiro. Dan ketika Wiro sadarkan diri maka dilihatnya di kulit dadanya terukir deretan angka-angka 212 berwarna hitam kebiruan. Angka-angka yang sama juga juga terdapat di telapak tangannya. Bedanya angka-angka yang di telapak tangan ini agak kecil dan berwarna putih sehingga agak samar-samar kelihatannya.
........................................................................

”Kau akan segera berangkat, Wiro?”
Pemuda itu tak segera menjawab. Kemudian dia mengangguk perlahan.
”Ucapanku yang terakhir Wiro, mulai saat kau turun gunung ini, pakailah nama WIRO SABLENG. Itu lebih baik bagi kau. Gurunya GENDENG, muridnya SABLENG.” Dan habis berkata demikian si nenek tua ini tertawa mengikik lama dan panjang. Namun tertawa itu hanyalah untuk menyembunyikan hati yang rawan, sedih itu untuk membendung air mata yang hendak tumpah keluar!
”Eyang.... kapan kita bisa bertemu lagi?” tanya Wiro. Sang guru hentikan tertawanya.
”Selama langit masih biru, selama hutan masih hijau, selama air sungai masih mengalir ke laut, kita pasti bertemu lagi Wiro Sableng....!”

(Dikutip dari Kitab Serial Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, dalam episode : Empat Brewok dari Goa Sanggreng, karya Bastian Tito)

03 January 2010

Perjalanan Awal Tahun

Tahun 2010 ini saya awali dengan melakukan perjalanan ke Kabupaten Merangin. Perjalanan yang cukup mengasyikkan, melelahkan dan juga memakan waktu satu tahun. Lho kok bisa ? Ya, karena berangkat pada tanggal 31 Desember 2009 hingga pulang kembali tanggal 3 Januari 2010. Jadi, dari tahun 2009 sampai 2010 kan satu tahun....

Sebenarnya perjalanan kali ini bukan murni inisiatif saya sendiri, cuma diminta ikut saja. Pada awal tahun baru ini DPW PKS Propinsi Jambi mengadakan acara MUKHAYYAM TARBAWI di Kabupaten Merangin. Acara dijadwalkan dari tanggal 1-3 Januari 2010 dan diikuti oleh anggota Kepanduan dan Kader-Kader PKS utusan dari setiap Kabupaten Kota di Propinsi Jambi. Acara ini merupakan pembekalan bagi kader dalam rangka Persiapan Penanggulangan Bencana. Bentuk acaranya berupa kegiatan perkemahan dan latihan-latihan keterampilan fisik dan mental. Sehubungan dengan itu, DPD PKS Kabupaten Muaro Jambi mengutus 5 kadernya, termasuk Pak Syahrul Sbg Ketuanya, untuk mengikuti acara tersebut. Adapun saya sendiri sebenarnya hanya ditugaskan untuk menyertai saja. Sekaligus sebagai penunjuk jalan dan tenaga bantuan cadangan.

Sebelum berangkat, pada hari kamis sore tanggal 31 Desember 2009 kami berkumpul dahulu di Sekretariat DPD PKS Muaro Jambi di Mendalo. Sekitar jam setengah empat sore rombongan berangkat dengan mini bus, kendaraan Operasional DPRD Kabupaten Muaro Jambi. Dalam mobil rombongan kami ini dimuati sembilan orang. Mereka antara lain: Bang Surya sebagai Driver Utama, Bang Saibani sbg asisten Driver. Adapun peserta Mukhayyam ada Pak Syahrul, Bang Fauzi, Akh Jaya dan Mas Supri Abu Khansa. Yang menariknya, si kecil Khansa juga ikut di mobil ini bareng sama Uminya. Itu anak lucu dan pintar banget ngomongnya. Asal nggak lagi tidur, nggak berhenti bercakap. Sebenarnya dia sama uminya mau ke rumah kerabatnya di Bangko. Penumpang terakhir ya saya sendiri.

Kami tiba di Kota Bangko sekitar jam setengah sebelas malam. Waktu itu hujan turun cukup deras. Terlebih dahulu kami mengantar Khansa beserta Umi & Abinya ke rumah kerabatnya. Setelah itu kami singgah sebentar ke Sekretariat DPD PKS Merangin. Karena acara Mukhayyam baru dimulai besok siangnya, maka kami harus bermalam dulu di Merangin. Kerena di DPD sepertinya tidak memungkinkan untuk menginap disitu, maka kami rombongan saya ajak ke rumah saya di Pamenang, sekitar 20 Km dari Bangko. Sekalian pulang kampung.

Perjalanan pun kami lanjutkan. Dibawah guyuran air hujan, mobil bergerak merayap menyusuri jalan pedesaan. Aspal yang licin, berlubang, dan tidak rata mengahalangi kendaraan untuk bergerak cepat. Rombongan tiba di rumah sekitar jam dua belas, jadi sudah masuk tahun 2010. Disana My Father rupanya udah menunggu.

Makanan dan minuman hangat sudah disiapkan. Sebelum istirahat kamipun makan (tengah) malam. Tampaknya rombongan sudah lapar banget. Walau makan cuma pake tahu goreng sama sambal cabe, tapi terasa lahap dan nikmat betul. Habis makan tidurpun nyenyak.

Jumat paginya perjalanan kembali dilanjutkan ke Kota Bangko. Sebelumnya segala amunisi dan logistik telah disiapkan, termasuk dua karung rambutan. Maklum, di kebun saya sedang banyak rambutan. Ada lima pohon rambutan yang berbuah lebat dan sudah masak hingga berwarna merah kehitaman. Saking banyaknya kalo dimakan sendiri juga nggak habis. Dijual di kampung juga nggak laku, karena masih kalah sama duku dan durian. Syukur kalo ada teman-teman yang mampir ke rumah bisa makan rambutan sepuasnya. Boleh juga kalo mau dibawa pulang.

Tiba di Bangko pas waktu shalat Jum’at. Rombongan dari Kabupaten lainpun juga sudah pada berdatangan. Nah, ba’da shalat Jum’at ini semua peserta Mukhayyam akan diberangkatkan ke lokasi acara, yaitu di Dam Betuk, 19 Km sebelah utara Kota bangko. Sebelumnya mereka harus berkumpul dulu di DPD untuk melakukan upacara pembukaan. Setelah berkumpul ternyata peserta mencapai 100 orang.

Usai pembukaan, peserta diangkut dengan dua armada Truk PS. Tiga kilometer menjelang sampai di tujuan, peserta diturunkan, dan diharuskan berjalan kaki menuju tempat acara akan digelar. Pastinya cukup melelahkan tapi tetap semangat.

Karena saya, Bang Surya dan Bang Syaibani tidak termasuk peserta, maka kamii cuma jalan-jalan aja dengan mobil mini bus. Jumat sore kami bertiga ke Kota Bungo. Malam harinya kami menginap di rumah saudaranya Bang Surya. Sepanjang hari Sabtu kami habiskan di Bungo. Sempat juga mengunjungi tempat Wisata Semagi, sungai di tengah hutan dengan arus air dan jeram yang deras dan batu-batu sebesar kerbau.

Hari ahad pagi ba’da shubuh tanggal 3 Januari 2010, kami bertiga baru ke Bangko lagi menjemput rombongan. Ternyata acara Mukhayyam baru selesai jam 11 siang. Rombongan bisa kembali berangkat ke Muaro Jambi jam 3 sore. Di perjalanan masih sempat mampir di Sungai Baung, Sarolangun, di rumah mertuanya Mas Zainal. Eh, disana kami diberi empat karung duku yang masih segar dan manis. Sepertinya baru saja dipetik dari pohonnya. Terus, dibagi-bagi deh itu duku ke semua anggota rombongan. Jam setengah sembilan malam sampailah kami di Muaro Jambi. Capek deh, tapi menyenangkan..............

27 December 2009

Mas Joko Sableng Mengucapken

بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما في خير

Kepada Dua Pasangan yg Sedang Berbahagia Mulai Hari Ini
(10 Muharram 1431 H) :


Irma Yuliana Sari,S.Kep.&Harfinalta Asri

Serta,

Siti Asiah, S.Pd.&Hidayat Nasution,S.E.


Semoga Pernikahan Kalian Diberkahi Allah,

Menjadi Keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Rahmah,
Dikaruniai Keturunan yang Banyak, Sehat dan Berkualitas

Aamiin.....


(Siapa lagi yang akan menyusul selanjutnya....?)

21 December 2009

Mendadak Dukun

Sungguh, peristiwa yg terjadi sekitar awal November 2009 lalu itu bagiku cukup menggelikan. Waktu itu malam hari kira-kira ba’da isya’, saya diminta seorang teman, namanya Akh Agung, menemaninya pergi ke lembaga Even Organizer milik sebuah perusahaan otomotif di Jambi yang berkantor di daerah The Hok. Adapun tujuannya adalah untuk ‘menuntut hak’ yang belum terpenuhi (baca: menagih utang).

Beberapa waktu sebelumnya lembaga tersebut mengadakan sebuah acara yang salah satu pengisi acaranya adalah Akh Agung ini. Karena kewajiban beliau udah dilaksanakan, sementara honornya belum dibayar, maka wajar kalau dia ‘menuntut’. Sebenarnya usaha ini sudah dilakukan beberapa kali, tapi selalu saja pihak EO tsb selalu minta tenggang waktu pembayaran.

Sebelum berangkat, akh Agung bilang, “Mas, lagi ada kerjaan dak? Kalo idak, temani ane ke The Hok ya...”

Karena waktu itu saya sedang tidak ada yang harus saya kerjaan, saya jawab, “Oke...”

Maka jadilah saya ‘bodyguard’ beliau. Kebetulan ketika pergi saya memakai pakaian yang tidak biasa, yaitu peci hitam, kacamata berbingkai tebal, baju khas jawa dengan motif bergaris-garis. Tak lupa pula jaket dan celana panjang hitam komprang yang biasa dipakai para pendekar silat. Kalo dilihat sebenarnya lebih mirip penampilan orang yang udah tua. Sebenarnya maksud saya memakai pakaian itu biar nyaman aja. Tapi dari situlah sebab awal dari cerita lucu ini.

Sampai di tempat tujuan kami disambut dengan ramah oleh seseorang yg bernama M, dia ini koordinatornya EO. Ternyata dia orang jawa. Melihat pakaian yang saya kenakan, diapun tahu kalo saya orang jawa. Maka kamipun ngobrol dengan bahasa jawa.

Tanpa saya duga, Si M ini bertanya, “Lek.... (halah, kok saya dipanggil Pak Lek pula), sampeyan iso ndelok makhluk halus opo ora? nek ndelok seko penampilane, sampeyan iki iso.Opo maneh jenggote sampeyan wes dawa kaya ngono...” (Lek... bisa ngelihat makhluk halus nggak? sepertinya kalo dilihat dari penampilannya, anda ini bisa, apalagi jenggotnya udah panjang kayak gitu...”).

Wah, rupanya hanya dengan melihat pakaian dan jenggot saya, Si M ini udah menyimpulkan kalo saya ini sebangsa dukun atau paranormal. Tapi dari pertanyaannya itulah, sifat asli saya yang usil dan gokil muncul. Sayapun menjawab, “Iso... lha wong bangsane lelembut kuwi kancaku kok...” (=Bisa... makhluk halus itu memang teman saya kok). Dan sayapun mulai merubah sikap dengan sok berwibawa. Suara saya bikin lebih besar dan pandangan mata yang dingin dan tajam. Rupanya Si M ini mulai percaya kalo saya bisa melihat makhluk halus (padahal cuma bo’ong).

“Coba Lek, deloken neng kamar nduwur kono kae, kiro-kiro ono makhluk haluse opo ora. Kanca-kancaku pada ora ono sing wani turu neng nduwur, soale ono sing wes tau diweruhi kaya pocongan.” Tanya Si M (=coba Lek, lihatin kamar atas di sana, kira-kira ada makhluk halusnya apa tidak. Teman-temanku gak ada yang berani tidur di kamar atas, soalnya ada yang pernah lihat penampakan seperti hantu pocong). Menurut cerita M, dulu ada salah seorang personilnya yang tewas dalam sebuah kecelakaan. Dan arwahnya sering menampakkan diri.

Sebenarnya saat itu saya mau ketawa ngakak, tapi benar-benar saya tahan. Sementara Akh Agung ngobrol mengenai urusannya di ruang bawah, untuk melengkapi sandiwara, sayapun naik ke kamar atas. Ruangan kantor ini memiliki dua lantai yang dihubungkan dengan tangga. Sebagai seorang mukmin, untuk urusan seperti ini saya tidak takut. Dengan bismillah, ternyata di ruang kamar atas tidak ada apa-apa. Hanya ada beberapa spanduk kegiatan yang teronggok di lantai dan sebuah lampu dengan cahaya yang redup. Sepertinya kamar ini memang jarang digunakan. Mungkin hanya siang hari saja mereka berani ke atas.

Setelah saya turun kembali, saya pun di tanya lagi, “Kepiye Lek, ono ora...?” (=gimana Lek, ada nggak).

“Iyo, memang ono”(=iya, memang ada) saya bilang. Saya ngomong gitu karena saya yakin, dimanapun ada manusia, disitu biasanya ada setan.

“Akeh ora...?” (=banyak nggak).

“Ya ada beberapa lah”.

“Tapi nggak apa-apa kan Lek ?”

“Yo pokokke sing pada ngati-ati wae...” (=yang penting pada berhati-hati sajalah). Jawaban saya ini rupanya semakin menambah Si M ini Cemas. Dia pun tanya lagi, “ Kalo di ruangan ini ada nggak Lek?”

“Kalo di sini malah lebih banyak.”

“Wah lha kok malah nakut-nakuti gitu Lek....?”

“Lha iyya.... namanya juga setan. Semakin banyak orangnya di sini, semakin banyak setannya dong. Setan ‘kan tugasnya memang mengoda manusia.” Kata saya.

Tapi saya sempat berpesan,”Sebenarnya tidak apa-apa, asal kalian bisa jaga diri. Misalnya bagi yang muslim ya menjalankan kewajibannya, seperti sholat dan baca Qur’an.” Nah, disinilah sedikit saya masukkan materi dakwah. Dan Si M pun tampaknya setuju.

Si M juga nanya, “Kalian berdua ini apa kawan satu daerah..? yang dimaksud adalah saya dan Akh Agung.

“Enggak, “ saya bilang, “Cuma kawan seperguruan....”

“Wah, kalo seperti ini memang berat (tingkatannya)“ komentarnya. Rupanya Si M ini mengartikan kata ‘seperguruan’ adalah dalam ilmu kebatinan atau semacam perguruan silat. Padahal yang saya maksud adalah Perguruan Tinggi. Karena kami memang dulunya kuliah di satu kampus. Lengkap sudah sandiwara saya.

Barulah ketika dalam perjalanann pulang kami berdua ketawa tanpa bisa ditahan lagi. Walaupun tujuan awal kami belum tercapai, karena ternyata pihak EO berjanji lagi mau membayar kewajibanya di akhir bulan, tapi kami mendapat pengalaman yang unik. Untuk pertama kalinya saya dikira Dukun.

Dari Abu Huroiroh Radhiallohu’anhu, Rasululloh Sholallohu’alaihi wasalam bersabda:

من ٲتی كاھنا فصدﻗﻪ بمايقول فقدكفر بماٲنزل على محمد

"Barang siapa yang mendatangi dukun, dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.” [HR. Abu Dawud]

17 December 2009

1431 H

Hari ini merupakan hari pertama di tahun 1431 Hijriyah, tahun dalam sistem penanggalan Islam yang mungkin masih banyak generasi muda Islam yang belum mengenalnya dengan baik. Mereka lebih akrab dengan kalender Masehi. Coba, tanya saja mereka, berapa banyak yang hafal urutan nama bulan dalam satu tahun hijriyah?

Di tahun baru ini, tak salah jika kita ber-muhasabah diri, tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di waktu-waktu yang lalu. Walaupun evaluasi amal kita itu bisa kita lakukan setiap saat dan tidak terbatas pada saat tahun baru saja. Apakah kualitasnya sudah semakin meningkat, atau malah sebaliknya. Saya kira kegiatan muhasabah ini lebih banyak bermanfaat dan lebih dapat menghemat waktu dan biaya dari pada menyelenggarakan perayaan-perayaan yang memang tak ada contohnya dari Rasulullah.

Bagi saya sendiri, Bulan muharam merupakan bulan yang bersejarah, karena pada saat itulah saya dilahirkan ke dunia ini, yaitu kira-kira tanggal 28 atau 29 Muharram 1403 Hijriyah. Mengapa ada dua kemungkinan tanggal lahir saya? Karena sistem penanggalan Qomariyah ini memiliki keunikan tersendiri, yang kadang-kadang terjadi perbedaan antara perhitungan Hisab dengan Rukyat.

Bilangan usia semakin bertambah, tapi jatah umur makin berkurang. Ternyata masih banyak lagi hal-hal yang harus saya perbaiki di masa depan. Target-target dimasa lalu masih banyak yang belum terpenuhi. Terutama untuk memenuhi harapan Orang Tua Tercinta.

Ada satu fenomena menarik di permulaan tahun baru kali ini. Tahun ini diawali hari Jumat, dan bertepatan dengan Jumat Kliwon dalam penanggalan Jawa. Mengapa disebut menarik (menurut saya)? Karena hari ini adalah hari yang dikeramatkan oleh para praktisi klenik dan perdukunan yang banyak dilakukan oleh orang Jawa di tanah air kita ini (Alhamdulillah, saya tdk termasuk lho...). Mereka menyebutnya sebagai bulan suro (yg berasal dari kata asyura’ ). Pada malam hari awal tahun biasanya di-isi dengan kegiatan begadang dengan disertai ritual-ritual khusus yang sarat dengan aroma kesyirikan. Ada yang memandikan benda-benda pusaka yang dianggap keramat, ada pula yg bertapa di tempat-tempat tertentu dan lain sebagainya. Mereka beranggapan bahwa malam tanggal 1 Suro merupakan waktu puncak berkumpulnya kekuatan dari alam ghaib.

Hal-hal seperti itu benar-benar nyata saya rasakan malam tadi sewaktu saya diminta menjemput seorang teman di simpang Aur Duri, Mendalo Darat. Ketika sedang menunggu teman saya itu, tercium sangat jelas aroma tajam bunga dan kemenyan yang dibakar. Entah siapa yang membakar, tapi saya bisa menduga bahwa itu dilakukan oleh para praktisi klenik itu. Bunga dan kemenyan memang merupakan sebagian dari benda-benda yang lazim digunakan sebagai sarana dalam dunia perdukunan. Kita berlindung kepada Allah agar dijauhkan dari hal-hal yang demikian.

Bagi seorang mukmin tentunya dan seharusnya mempunyai pandangan yang berbeda dalam memaknai bulan dan hari. Tentu saja harus tetap dalam bingkai syariah. Muharram merupakan salah satu bulan yang memiliki kemuliaan. Karena didalamnya kita disunnahkan untuk berpuasa, yaitu pada tanggal 10 Muharram.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam bersabda: “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah, (yakni bulan) Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam.” [HR. Muslim no.1163]

Ketika Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam ditanya tentang ketuamaan puasa di bulan Muharram tersebut, Beliau bersabda: “Puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu.” [HR. Muslim no.1162]

Lebih utama lagi jika puasa tanggal 10 Muharram didahului dengan puasa pada tanggal 9 Muharram, dalam rangka menyelisihi orang Yahudi yang juga mengagungkan tanggal 10 Muharram. Nabi Bersabda: “Jika saja aku masih hidup tahun depan, maka aku akan berpuasa pada tanggal 9 Muharram (bersama 10 Muharram).” [HR. Muslim no.1134].

Demikian pula dengan hari Jumat. Hari ini memiliki banyak keutamaan karena merupakan hari raya pekanan bagi seorang muslim. Di hari Jumat ini disyariatkan Shalat Jumat bagi laki-laki. Dan di hari jumat ini juga terdapat satu waktu yang utama bagi terkabulnnya do’a.

Dengan mengetahui akan keutamaan Bulan Muharram dan hari Jumat, sudah seharusnyalah kita sebagai muslim untuk mengisinya dengan sebaik baiknya. Semoga Allah memudahkan kita dalam melakukan amal-amal ketaatan.

Maroji’: Majalah As-Sunnah, No. 09/Thn. XIII Dzulhijjah 1430 H/Desember 2009 M

06 December 2009

TURUT BERSUKA CITA

Mas Djoko Sableng Mengucapken:


بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما في خير

Kepada Dua Insan yang Sedang Berbahagia, yang Baru Saja Melangsungken Sebuah Ikatan Suci yang Kuat, Telah Tercatat dalam Lauhil-Mahfuz :

SYARIFAH LESTARI
&
AHMAD ABDUL MALIK


Semoga Pernikahan Kalian Berdua Diberkahi Allah,
Menjadi Keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Rahmah,
Dikaruniai Keturunan yang Banyak
, Sehat dan Berkualitas

Aamiin.....

24 November 2009

MENYAMBUNG SILATURRAHIM

Imam Ibnu Manzhur rahimahullah berkata tentang silaturrahim: “Al-Imam Ibnul-Atsir rahimahullah berkata, ‘Silaturrahim adalah ungkapan mengenai perbuatan baik kepada karib kerabat karena hubungan se-nasab atau karena perkawinan, berlemah lembut kepada mereka, menyayangi mereka, memperhatikan keadaan mereka, meskipun mereka jauh dan berbuat jahat. Sedangkan memutus silaturrahim adalah lawan dari hal itu semua’.”[Lisaanul ‘Arab XV/318]

Dari pengertian di atas, maka silaturrahim hanya ditujukan pada orang-orang yang memiliki hubungan kerabat dengan kita, seperti kedua orang tua, kakak, adik, paman, bibi, keponakan, sepupu, dan lainnya yang memiliki hubungan kerabat dengan kita.

Sebagian besar kaum Muslimin salah dalam menggunakan kata silaturrahim. Mereka menggunakannya untuk hubungan mereka dengan rekan-rekan dan kawan-kawan mereka. Padahal silaturrahim hanyalah terbatas pada orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan kita. Adapun kepada orang yang bukan kerabat, maka yang ada hanyalah Ukhuwwah Islamiyyah (persaudaraan Islam).

Silaturrahim yang hakiki bukanlah menyambung hubungan baik dengan orang yang telah berbuat baik kepada kita, namun silaturrahim yang hakiki adalah menyambung hubungan kekerabatan yang telah retak dan putus, dan berbuat baik kepada kerabat yang berbuat jahat. Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam bersabda:


ليس الواصل بالمكا فئ ولكن الواصل الذي اذا قطعت رحمه وصله

Orang yang menyambung kekerabatan bukanlah orang yang membalas kebaikan, tetapi orang yang menyambungnya adalah orang yang menyambung kekerabatannya apabila diputus. [HR. al-Bukhari (no. 5991), Abu Dawud (no. 1697), at-Tirmidzi (no. 1908)]

Imam al-‘Allamah ar-Raghib al-Asfahani rahimahullah menyatakan bahwa rahim berasal dari kata rahmah yang berarti lembut, yang memberi konsekuensi berbuat baik kepada orang yang disayangi. [Mufradat al-Fazhil-Qur’an]

Ar-Rahim, adalah salah satu nama Allah. Rahim (kekerabatan), Allah letakkan di ‘Arsy. Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam bersabda:

Rahim (kekerabatan) itu tergantung di ‘Arsy. Dia berkata, “Siapa yang menyambungku, Allah akan menyambungnya. Dan siapa yang memutuskanku, Allah akan memutuskannya. [HR. al-Bukhari (no. 5989), dan Muslim (no. 2555)]

Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam mengaitkan antara menyambung silaturrahim dengan keimanan terhadap Allah dan hari akhir. Beliau bersabda:

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturrahim. [HR. al-Bukhari (no.6138)]

Dengan bersilaturrahim, Allah akan melapangkan rezeki dan memanjangkan umur kita. Sebaliknya, orang yang memutuskan silaturrahim, Allah akan sempitkan rezekinya atau tidak diberikan keberkahan pada hartanya. Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam bersabda:


من احب ان يبسط له فى رزقه وينساء له فى اثره فليصل رحمه

Barangsiapa yang suka diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung talisilaturrahim. [HR. al-Bukhari (no. 5986), dan Muslim (no. 2557)]

Adapun haramnya memutuskan silaturrahim telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasalam dalam sabdanya:


لا يدخل الجنة قاطع

Tidak masuk surga, orang yang memutuskan silaturrahim. [HR. al-Bukhari (no. 5984), dan Muslim (no. 2556)]

Bersilaturrahim dapat dilakukan dengan cara mengunjungi karib kerabat, menanyakan, kabarnya, memberikan hadiah, bersedekah kepada mereka yang miskin, menghormati mereka yang ber-usia lebih tua dan menyayangi yang lebih muda dan lemah,serta menanyakan teruskeadaan mereka, baik dengan cara datang langsung, melalui surat, maupun dengan menghubunginya lewat telepon ataupun SMS.

Bisa juga dengan meminta mereka untuk bertamu, menyambut kedatangannya dengan suka cita, memuliakannya, ikut senang bila mereka senang, ikut sedih bila mereka sedih, mendoakan mereka dengan kebaikan, tidak merasa dengki terhadapnya, mendamaikannya bila berselisih, dan bersemangat untuk mengokohkan hubungan diantara mereka.

Bisa juga dengan menjenguknya bila sakit, memenuhi undangannya, dan yang paling mulia ialah bersemangat untuk berdakwah dan mengajaknya kepada hidayah, tauhid, dan Sunnah, serta menyuruh mereka melakukan kebaikan dan melarang mereka melakukan dosa dan maksiat.

Silaturrahim yang paling utama adalah silaturrahim kepada kedua orang tua. Orang tua adalah kerabat yang paling dekat, yang memiliki jasa yang sangat besar, mereka memberikan kasih dan sayangnya sepanjang hidup mereka. Menyambung silaturrahim dan berbuat baik kepada kedua orang tua adalah wajib berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebaliknya memutus silaturrahim dan durhaka kepada kedua orang tua adalah haram dan termasuk dosa besar.

Kesimpulannya, silaturrahim memiliki sekian banyak manfaat yang sangat besar, diantaranya sebagai berikut:

  1. Dengan bersilaturrahim, berarti kita telah menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya.
  2. Akan menumbuhkan sikap saling tolong menolong dan mengetahui keadaan karib kerabat.
  3. Allah akan meluaskan rezeki dan memanjangkan umur kita.
  4. Kita dapat menyampaikan dakwah, menyampaikan ilmu, menyuruh berbuat baik, dan mencegah berbagai kemunkaran yang mungkin akan terus berlangsung apabila kita tidak mencegahnya.
  5. Silaturrahim sebagai sebab seseorang masuk surga.

Maraji’: Majalah As-Sunnah (6-7)/Tahun XI/1428H/2009

01 November 2009

Djoko Sableng in Java

Gerbang Balai Desa Bangun Harjo Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul Yogyakarta

Menghirup segarnya udara pagi di halaman Balai Desa


Adu kekuatan sama "yang nunggu" di Balai Desa


Ini dulunya rumah Kakek moyangku, diwariskan kepada Bapakku. Pada waktu Gempa di Jogja tahun 2006 lalu, rumah ini hancur berkeping-keping. Alhamdulillah atas bantuan dana dari Pemerintah, rumah ini tegak kembali walaupun dengan ukuran yg lebih kecil. Karena dana yang diberikan tak mencukupi, jadilah rumah seperti ini, hingga kini tanpa daun pintu dan jendela. Nenekku tinggal di sebelahnya, rumahnya Bulik-ku

Bernostalgila dengan Piet Onthel.
Lokasi di halaman rumah Kakek (orang tuanya Emakku), di Dusun Gadungan Kepuh Desa Canden Kecamatan Jetis, Sewon, Bantul

Suasana kampung yang sejuk dan damai.
Si eMbah mau pergi ke pasar tuh....

Tugu peringatan gempa di tepi sawah