27 January 2010

Dua Satu Dua


Apa kabar para sahabat di seluruh penjuru jagad maya? Semoga kita semua senantiasa berada dalam kebaikan. Di zama kita sekarang ini, yang namanya nasehat sangatlah kita butuhkan sebagai bekal kita dalam menapaki kehidupan yang memerlukan perjuangan keras ini. Sebenarnya banyak sekali nasehat, hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari berbagai tempat dan peristiwa yg terjadi di sekitar kita, tergantung pada kemauan dan pandai-pandainya kita mengambilnya.

Pada kesempatan ini saya mengajak para sahabat untuk mengambil sedikit nasehat dari seorang tokoh yang cukup terkenal di kalangan Dunia Persilatan. Sekaligus kita refreshing sejenak sambil menikmati penggalan kisah dari Pendekar kita yang saat itu masih sebagai pemuda yang lugu yang hendak turun gunung.

BAB DELAPAN

.......
Sinto Gendeng tertawa melengking-lengking. Dan sehabis tertawa tadi maka diulanginya nyanyian tadi. Nyanyian yang membuat hati Wiro Saksana menjadi tergetar.

Pitulas taun wus katilar,
Pucuking Gunung Gede isih panggah kaya biyen mulo,
Langit isih tetep biru,
Wulan lan suryo isih tetep mandeng lan kangen,
Pitulas taun agawe kang tua tambah tua.
Pitulas taun ndadekake bayi abang dadi pemuda kang gagah,
Pitulas taun wektu perjanjian,
Pitulas taun wiwitane perpisahan,
Pitulas taun wekdaling pamales.


Wiro duduk menghamparkan diri di bawah sebatang pohon di seberang pohon jambu klutuk. Dilihatnya gurunya menghela nafas dalam beberapa kali.
”Dadamu sesak Eyang? Aku bisa tolong urut....”
”Diam!” bentak Sinto Gendeng. Wiro menggaruk kepalanya dan diam.
”Aku mau bicara sama kau!” kata Sinto Gendeng pula.
”Bicara apa Eyang....?” Pemuda ini mulai bicara sungguh-sungguh karena dilihatnya gurunya juga bicara sungguh-sungguh.
”Berapa lama kau tinggal di sini bersamaku, Wiro?!”
”Murid tidak ingat....”
”Gelo betul! Buat apa aku ajar tulis baca dan berhitung sama kau?!”
”Mungkin sepuluh tahun, Eyang....”
”Goblok! Tujuh belas tahun, tahu?!”
Wiro tertawa, ”Iyyaa.... tujuh belas tahun Eyang,” katanya pula.
”Kuharap hari ini kau jangan bicara sinting sama aku, Wiro!” bentak Sinto Gendeng dan matanya masih terus menatap ke timur.
”Kau lihat matahari itu?”
”Lihat Eyang....” jawab Wiro seraya memandang ke timur.
”Matahari itu masih tetap matahari yang dulu juga, masih sama dengan matahari tujuh belas tahun yang silam. Puncak Gunung Gede ini juga masih seperti dulu juga. Cuma yang tua tambah tua, yang orok jadi pemuda! Cuma dunia luar yang banyak berobahnya!”
Wiro Saksana mendengarkan dengan sungguh-sungguh karena tak pernah dilihatnya gurunya bicara seperti itu sebelumnya. Kemudian terdengar kembali suara sang nenek.
”Tujuhbelas tahun. Sekian lama kau tinggal bersamaku. Belajar tulis baca, belajar ilmu silat, belajar segala kesaktian. Tapi kau jangan lupa! Kudu inget! Ilmu dan segala kesaktian apa yang telah aku berikan sama kau semuanya adalah masih sangat terlalu kecil, terlalu sedikit, sama sekali tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ilmu kekuasaan Gusti Allah. Kau mengerti, Wiro?”
”Ya, Eyang....”
”Karena itu kau musti sadar, kudu ingat. Kalau ini hari kau sudah menjadi sakti mandraguna yang tak sembarang orang bisa menandingi kau, tapi hal utama yang musti kau lakukan ialah menjauhkan diri dari segala sifat yang tidak baik! Kau jangan sekali-kali bersifat sombong, congkak dan takabur! Pakai semua ilmu yang kuberikan untuk menolong sesama manusia, untuk kebaikan. Kalau kau nyeleweng, kau akan dapat balasan sendiri di kemudian hari! Kau musti ingat bahwa bukan kau saja yang sakti di dunia ini. Kau musti sadar bahwa diluar langit ada langit lagi. Kau sadar, Wiro?”
”Sadar, Eyang....”
”Ingat?”
”Ingat,Eyang....”
”Ingat.... ya ingat! Manusia ingat dengan pikirannya, sama otaknya! Tapi aku tak mau kalau kau cuma sekedar mengingat saja karena setiap ada ingat musti ada lupa. Dan manusia manapun selagi bernama manusia, suatu ketika tetap akan membawa sifat lupa itu. Lupa dan kelupaan. Yang penting ialah kau musti menanamkan sedalam-dalamnya ke dalam hatimu, ke dalam sanubarimu, ke dalam aliran kau punya darah, ke dalam detakan jantung, ke dalam hembusan nafas! Sesuatu itu, jika ditanamkan dalam-dalam laksana sebatang pohon, jadinya tak satu tanganpun yang sanggup mencabutnya dari bumi karena dari hari ke hari akar yang membuat pohon itu tegak semakin kokoh dan jauh masuk ke dalam tanah!” Kesunyian menyeling beberapa lamanya. Kesunyian ini dipecahkan oleh suara Eyang Sinto Gendeng kembali.
”Hari ini adalah hari yang penghabisan kau berada di sini, Wiro!”
”Eyang....,” terkejut Wiro Saksana mendengar kata-kata gurunya yang tiada
disangkanya itu.
”Kau terkejut....? Tak perlu terkejut. Di dunia ini selalu ada waktu bertemu selalu ada waktu perpisahan. Waktu datang dan waktu pergi! Aku telah selesai dengan kewajibanku memberikan segala macam ilmu kepada kau dan kau sudah selesai dengan kewajiban kau yaitu menuntut dan mempelajari ilmu itu dari-ku....”
Dalam duduknya itu Wiro Saksana jadi tertegun. Jadi rupa-rupanya apa yang dinyanyikan oleh Eyang Sinto Gendeng tadi ada hubungannya dengan peri kehidupannya. Cuma yang belum dimengerti Wiro ialah barisan kalimat, Tujuh belas tahun masa perjanjian.... tujuh belas tahun saat pembalasan....
Eyang Sinto Gendeng tiba-tiba melayang turun ke tanah kembali. Dia berdiri di hadapan muridnya. Dan mulai lagi bicara.
”Segala apa yang ada di dunia ini selalu terdiri atas dua bagian, Wiro! Dua bagian yang berlainan satu sama lain tapi yang menjadi pasangan-pasangannya....”
Wiro Saksana kerenyitkan kening tak mengerti.
”Misalnya Eyang?” tanyanya.
”Misalnya...., ada laki-laki ada perempuan. Bukankah itu dua bagian yang berlainan? Tapi merupakan pasangan?!”
”Betul Eyang....”
”Misal lain.... ada langit.... ada bumi. Ada lautan ada daratan. Ada api ada air.... ada panas ada dingin. Ada hidup ada mati, ada miskin ada kaya. Ada buta ada melek. Ada lurus ada bengkok, ada panjang ada pendek, ada tinggi ada rendah, ada dalam ada cetek! Semuanya selalu begitu Wiro. Kemudian.... ada susah ada senang, ada tertawa ada menangis. Di atas semua itu ada satu yang tertinggi. Yang satu ini ialah penciptanya. Siapa yang ciptakan kau, Wiro....?”
”Tidak tahu Eyang....”
”Bogrol!”
”Aku tahu Eyang....”
”Siapa?”
”Ibu sama bapakku.”
”Siapa yang mencipatakan ibu sama bapak kau?”
”Nenek sama kakek....”
”Yang menciptakan nenek sama kakek....?”
”Nenek dari nenek dan kakek dari kakek....”
”Dan yang menciptakan nenek dari nenek serta kakek dari kakek....?”
”Ya nenek dari nenek dari nenek dan kakek....”
”Geblek!” bentak Sinto Gendeng.
”Manusia tidak pernah bisa menciptakan manusia! Bapak kau kawin sama ibu kau dan ibu kau cuma melahirkan kau, lain tidak!! Ibu kau dilahirkan sama nenek, kau begitu seterusnya goblok! Semua manusia ini, semua apa saja di dunia ini diciptakan oleh Yang Satu. Oleh Gusti Allah! Hal-hal yang dua itupun juga diciptakan dengan kodrat iradatnya Gusti Allah. Gusti Allah ciptakan laki-laki juga Dia ciptakan perempuan. Gusti Allah bikin langit, juga bikin bumi. Bikin orang-orang susah juga bikin orang-orang senang. Bikin manusia-manusia kaya juga bikin manusia-manusia miskin. Sekarang aku mau tanya sama kau. Berapa kau punya mata?”
”Dua, Eyang.”
”Hidung?”
”Satu Eyang.”
”Lobang hidung?”
”Dua Eyang....”
”Mulut?”
”Satu....”
”Bibir?”
”Dua Eyang.”
”Kepala?”
”Satu....”
”Tangan?”
”Dua....”
”Kaki....?”
”Juga dua Eyang....”
”Kau punya biji kemaluan....?”
”Dua Eyang,” dan dalam hatinya Wiro memaki tapi geli.
”Kau punya batang kemaluan?”
”Satu Eyang....” Wiro geli lagi dan memaki lagi.
”Nah.... itu semua membuktikan di dunia ini kehidupan manusia adalah tak ubahnya seperti bilangan dua dan satu, satu dan dua, dua satu dua dan seterusnya. Angka dua dan satu itu selalu ada melekat dalam diri manusia. Dan semuanya itu hanya diciptakan oleh Yang Maha Kuasa yakni Gusti Allah! Kehidupan dua dan satu ini, kehidupan dua satu dua ini, dan adanya dua satu dua ini tak bisa diingkari dan harus melekat dalam diri manusia! Manusia pasti akan merasakan senang susah, gembira sedih, kaya miskin, lapar kenyang, hidup mati, dan manusia juga musti percaya pada Yang Satu yakni Gusti Allah....”
”Tapi manusia yang picak, Eyang, matanya cuma satu, manusia yang buntung kakinya sebelah, berarti cuma punya satu kaki. Jadi dia tidak memiliki angka dua yang sempurna dalam dirinya....”
”Betul, meski begitu berarti dia cuma punya satu mata, punya satu kaki! Nah, bukankah ada juga melekat angka satu pada dirinya?! Aku sudah bilang sama kau bahwa dalam diri manusia musti ada angka dua dan satu itu! Apa kau masih kurang ngerti, goblok?!” Wiro diam, kata-kata gurunya itu memang betul.
”Sekarang berdirilah kau!,” perintah Eyang Sinto Gendeng. Wiro Saksana berdiri. Eyang Sinto Gendeng menyeringai dan tertawa cekikikan. Tiba-tiba dari balik pakaian hitamnya dikeluarkannya kembali kapak saktinya. Terkejut Wiro Saksana dan pemuda ini mundur beberapa langkah ke belakang. Sinto Gendeng menyeringai lagi, tertawa lagi hingga
kedua matanya berair.
“Kenapa kau terkejut....?” tanya Eyang Sinto Gendeng. “Kau takut?!”
“Eyang mau bikin cilaka murid lagi?!” tanya Wiro Saksana bersiap-siap. Dan nenek itu tertawa lagi melengking-lengking. Dia mundur sampai tujuh tombak ke belakang.
”Pejamkan matamu, Wiro!” perintah Eyang Sinto Gendeng pula.
”Tapi.... Eyang mau bikin apa?!”
”Eeee.... kunyuk betul kau! Aku suruh pejamkan mata malah banyak tanya!! Pejamkan matamu!” Wiro memejamkan matanya dengan ragu-ragu. Karena itu kedua mata itu dipejamkannya tidak rapat betul.
”Biar rapat!” hardik Sinto Gendeng. Dan Wiro terpaksa menutup matanya rapat-rapat.
“Buka bajumu!” Wiro membuka bajunya dan meletakkannya di tanah. Kedua matanya tetap memejam.
“Buka tangan kananmu, naikkan ke atas dan hadapkan telapaknya kepadaku!”, perintah Sinto Gendeng lagi. Wiro mengikuti perintah itu. Eyang Sinto Gendeng memegang mata kapak dengan tangan kanannya erat-erat. Salah satu jarinya kemudian menempelkan disatu bagian rahasia pada gading dekat kepala kapak yang terbuat dari besi putih itu.
”Apapun yang terjadi sekali-kali jangan buka kedua matamu dan sekali-kali jangan bergeser. Kecuali kalau kau mau mampus!”
”Eyang....”
”Diam! Gila betul!,” bentak Sinto Gendeng. Wiro terpaksa membungkam. Perempuan tua itu menekan alat rahasia dekat kepala kapak. Maka dari mulut naga-nagaan di hulu kapak melesat dengan suara menderu tigapuluh enam batang jarum putih. Ketiga puluh enam jarum itu mendarat dan menancap di dada kanan Wiro Saksana. Jarum-jarum ini menancap dengan teratur membentuk susunan angka 212. Pemuda itu menjerit keras. Tubuhnya rebah ke tanah! Sekali lagi Sinto Gendeng menekan alat rahasia dekat kepala kapak. Kini dua puluh empat batang jarum hitam meluncur dan menancap di telapak tangan sebelah kanan Wiro Saksana! Pemuda ini menjerit lagi karena tancapan jarum yang tigapuluh enam tadi telah membuat dia tak sadarkan diri!
Sebelum Wiro Saksana siuman, Eyang Sinto Gendeng sudah mencabuti jarum-jarum putih di dada pemuda itu, juga jarum-jarum hitam di telapak tangan kanan Wiro. Dan ketika Wiro sadarkan diri maka dilihatnya di kulit dadanya terukir deretan angka-angka 212 berwarna hitam kebiruan. Angka-angka yang sama juga juga terdapat di telapak tangannya. Bedanya angka-angka yang di telapak tangan ini agak kecil dan berwarna putih sehingga agak samar-samar kelihatannya.
........................................................................

”Kau akan segera berangkat, Wiro?”
Pemuda itu tak segera menjawab. Kemudian dia mengangguk perlahan.
”Ucapanku yang terakhir Wiro, mulai saat kau turun gunung ini, pakailah nama WIRO SABLENG. Itu lebih baik bagi kau. Gurunya GENDENG, muridnya SABLENG.” Dan habis berkata demikian si nenek tua ini tertawa mengikik lama dan panjang. Namun tertawa itu hanyalah untuk menyembunyikan hati yang rawan, sedih itu untuk membendung air mata yang hendak tumpah keluar!
”Eyang.... kapan kita bisa bertemu lagi?” tanya Wiro. Sang guru hentikan tertawanya.
”Selama langit masih biru, selama hutan masih hijau, selama air sungai masih mengalir ke laut, kita pasti bertemu lagi Wiro Sableng....!”

(Dikutip dari Kitab Serial Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, dalam episode : Empat Brewok dari Goa Sanggreng, karya Bastian Tito)

03 January 2010

Perjalanan Awal Tahun

Tahun 2010 ini saya awali dengan melakukan perjalanan ke Kabupaten Merangin. Perjalanan yang cukup mengasyikkan, melelahkan dan juga memakan waktu satu tahun. Lho kok bisa ? Ya, karena berangkat pada tanggal 31 Desember 2009 hingga pulang kembali tanggal 3 Januari 2010. Jadi, dari tahun 2009 sampai 2010 kan satu tahun....

Sebenarnya perjalanan kali ini bukan murni inisiatif saya sendiri, cuma diminta ikut saja. Pada awal tahun baru ini DPW PKS Propinsi Jambi mengadakan acara MUKHAYYAM TARBAWI di Kabupaten Merangin. Acara dijadwalkan dari tanggal 1-3 Januari 2010 dan diikuti oleh anggota Kepanduan dan Kader-Kader PKS utusan dari setiap Kabupaten Kota di Propinsi Jambi. Acara ini merupakan pembekalan bagi kader dalam rangka Persiapan Penanggulangan Bencana. Bentuk acaranya berupa kegiatan perkemahan dan latihan-latihan keterampilan fisik dan mental. Sehubungan dengan itu, DPD PKS Kabupaten Muaro Jambi mengutus 5 kadernya, termasuk Pak Syahrul Sbg Ketuanya, untuk mengikuti acara tersebut. Adapun saya sendiri sebenarnya hanya ditugaskan untuk menyertai saja. Sekaligus sebagai penunjuk jalan dan tenaga bantuan cadangan.

Sebelum berangkat, pada hari kamis sore tanggal 31 Desember 2009 kami berkumpul dahulu di Sekretariat DPD PKS Muaro Jambi di Mendalo. Sekitar jam setengah empat sore rombongan berangkat dengan mini bus, kendaraan Operasional DPRD Kabupaten Muaro Jambi. Dalam mobil rombongan kami ini dimuati sembilan orang. Mereka antara lain: Bang Surya sebagai Driver Utama, Bang Saibani sbg asisten Driver. Adapun peserta Mukhayyam ada Pak Syahrul, Bang Fauzi, Akh Jaya dan Mas Supri Abu Khansa. Yang menariknya, si kecil Khansa juga ikut di mobil ini bareng sama Uminya. Itu anak lucu dan pintar banget ngomongnya. Asal nggak lagi tidur, nggak berhenti bercakap. Sebenarnya dia sama uminya mau ke rumah kerabatnya di Bangko. Penumpang terakhir ya saya sendiri.

Kami tiba di Kota Bangko sekitar jam setengah sebelas malam. Waktu itu hujan turun cukup deras. Terlebih dahulu kami mengantar Khansa beserta Umi & Abinya ke rumah kerabatnya. Setelah itu kami singgah sebentar ke Sekretariat DPD PKS Merangin. Karena acara Mukhayyam baru dimulai besok siangnya, maka kami harus bermalam dulu di Merangin. Kerena di DPD sepertinya tidak memungkinkan untuk menginap disitu, maka kami rombongan saya ajak ke rumah saya di Pamenang, sekitar 20 Km dari Bangko. Sekalian pulang kampung.

Perjalanan pun kami lanjutkan. Dibawah guyuran air hujan, mobil bergerak merayap menyusuri jalan pedesaan. Aspal yang licin, berlubang, dan tidak rata mengahalangi kendaraan untuk bergerak cepat. Rombongan tiba di rumah sekitar jam dua belas, jadi sudah masuk tahun 2010. Disana My Father rupanya udah menunggu.

Makanan dan minuman hangat sudah disiapkan. Sebelum istirahat kamipun makan (tengah) malam. Tampaknya rombongan sudah lapar banget. Walau makan cuma pake tahu goreng sama sambal cabe, tapi terasa lahap dan nikmat betul. Habis makan tidurpun nyenyak.

Jumat paginya perjalanan kembali dilanjutkan ke Kota Bangko. Sebelumnya segala amunisi dan logistik telah disiapkan, termasuk dua karung rambutan. Maklum, di kebun saya sedang banyak rambutan. Ada lima pohon rambutan yang berbuah lebat dan sudah masak hingga berwarna merah kehitaman. Saking banyaknya kalo dimakan sendiri juga nggak habis. Dijual di kampung juga nggak laku, karena masih kalah sama duku dan durian. Syukur kalo ada teman-teman yang mampir ke rumah bisa makan rambutan sepuasnya. Boleh juga kalo mau dibawa pulang.

Tiba di Bangko pas waktu shalat Jum’at. Rombongan dari Kabupaten lainpun juga sudah pada berdatangan. Nah, ba’da shalat Jum’at ini semua peserta Mukhayyam akan diberangkatkan ke lokasi acara, yaitu di Dam Betuk, 19 Km sebelah utara Kota bangko. Sebelumnya mereka harus berkumpul dulu di DPD untuk melakukan upacara pembukaan. Setelah berkumpul ternyata peserta mencapai 100 orang.

Usai pembukaan, peserta diangkut dengan dua armada Truk PS. Tiga kilometer menjelang sampai di tujuan, peserta diturunkan, dan diharuskan berjalan kaki menuju tempat acara akan digelar. Pastinya cukup melelahkan tapi tetap semangat.

Karena saya, Bang Surya dan Bang Syaibani tidak termasuk peserta, maka kamii cuma jalan-jalan aja dengan mobil mini bus. Jumat sore kami bertiga ke Kota Bungo. Malam harinya kami menginap di rumah saudaranya Bang Surya. Sepanjang hari Sabtu kami habiskan di Bungo. Sempat juga mengunjungi tempat Wisata Semagi, sungai di tengah hutan dengan arus air dan jeram yang deras dan batu-batu sebesar kerbau.

Hari ahad pagi ba’da shubuh tanggal 3 Januari 2010, kami bertiga baru ke Bangko lagi menjemput rombongan. Ternyata acara Mukhayyam baru selesai jam 11 siang. Rombongan bisa kembali berangkat ke Muaro Jambi jam 3 sore. Di perjalanan masih sempat mampir di Sungai Baung, Sarolangun, di rumah mertuanya Mas Zainal. Eh, disana kami diberi empat karung duku yang masih segar dan manis. Sepertinya baru saja dipetik dari pohonnya. Terus, dibagi-bagi deh itu duku ke semua anggota rombongan. Jam setengah sembilan malam sampailah kami di Muaro Jambi. Capek deh, tapi menyenangkan..............